Menjadi Pengikut Salaf Sejati

Author: Labels:
           Bermanhaj ahlu sunnah wal jamaah merupakan pilihan tepat. Inilah jalan yang diempuh oleh Rosululloh SAW dan para sahabat yang kemudian dilanjutkan oleh tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para ulama-ulama setelahnya. Tak heran banyak yang mengklaim bermanhaj ahlu sunah wal jamaah, walau kadang dalam amalan jauh dari manhaj ahlu sunnah tersebut.

            Dalam menjalankan manhaj ahlu sunnah, kita memiliki model untuk ditiru. Yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Mereka adalah generasi emas yang dijamin oleh Nabi sebagai khairun nas atau manusia terbaik. Mereka tahu bagaimana menjalankan Islam sebagaimana yang dimaksud dalam Al-quran dan sunnah Nabi. Karenanya, setiap orang yang ingin akidah dan ibadahnya benar, seharusnya meneladani generasi salaf tersebut.

            Catatan sejarah juga membuktikan bahwa setelah tiga era tersebut, firqah-firqah sesat semakin menyeruak dengan membawa penyimpangan akidah dan ajaran Islam. Para pengikut firqah tersebut sangat massif menyebarkan pemahamannya keseluruh lapisan umat. Mulai dari orang awam hingga penguasa. Fitnah semacam ini sangat jarang ditemukan pada masa sebelumnya.

            Khusus untuk sahabat Nabi mereka memiliki keutamaan yang istimewa hingga Abdullah bin Umar pernah memberi wasiat, “Siapa saja yang mencari teladan, contohlah orang yang sudah meninggal. Mereka adalah para sahabat Nabi Muhamad SAW. Merekalah generasi terbaik umat ini. Hati mereka paling lembut, ilmu mereka paling luas dan jarang membebani diri sendiri. Karena itulah Allah memilih mereka sebagai pengawal Nabi-Nya dan penyebar agama-Nya.”

 
            Figur dan karakter sahabat didikan Nabi tersebut membuat Imam al Auzai kagum. Sehingga beliau kerap mengingatkan pentingnya mengikuti mereka. Mereka memahami Islam, mereka menyaksikan kenapa dan bagaimana ayat turun dan hadist disabdakan. Sehingga, “Ilmu itu adalah apa yang bersumber dari sahabat Nabi, selain itu bukan ilmu. Sahabat Nabi ibarat lampu yang bercahaya dan sinar bercahaya.” Kata Imam al Auzai.

            Ulama yang kerap menjadi rujukan Imam Malik dan Sufyan Ats-Tsauri tersebut menelaah kehidupan murid-murid binaan Nabi tersebut dan menemukan bahwa mereka memiliki limaciri utama atau khasais. Mereka berkomitmen dengan kelima hal itu sehingga membuat mereka menjadi pengikut Rasulullah SAW yang sekati. Beliau Mengatakan :

Lima hal yang menjadi pegangan hidup para sahabat Rasulullah SAW yaitu : Melazimi jamaah, Mengikuti sunnah Nabi, Memakmurkan masjid, Membaca Al-quran, dan Jihad fi sabilillah.”

            Imam Al-Auzai memandang bahwa lima khasais di atas sebagai lima asas yang selalu dipegang para sahabat. Oleh karena itu, langkah nyata meneladani para sahabat dimulai dengan menjalani kelima hal itu. Siapa saja yang mengamalkannya dengan maksimal, akan dapat mengaplikasikan sifat-sifat lainnya yang kedudukanya sebagai pelengkap. Dalam hal ini Imam Al-Auzai menekankan, “Bersabarlah dalam menjalankan sunnah Nabi. Bersikaplah seperti para sahabat bersikap. Katakana pa yang mereka katakana. Hindari apa yang mereka tinggalkan.”

Mengikuti Sunnah Nabi (Ittiba’ as-Sunnah)

            Ittiba’ as-sunnah bararti mengikuti sunnah Nabi. Sunnah Nabi adalah segala hal yang s\bersumber dari Nabi SAW yang berupa ucapan, perbuatan dan persetujuan beliau atas tinakan orang lain. Allah SWT menyatakan bahwa Nabi tidak berkata berdasar hawa nafsu melainkan atas bimbingan wahyu. Allah SWT berfirman yang artinya :

Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm : 3-4)

            Para sahabat berkomitmen mengedepankan sunnah Nabi disbandingkan ucapan manusia lain. Seperti yang disampaikan Ibnu Masud kepada orang yang meminta petuahnya, “Ikutilah sunnah Nabi, jangan membuat bidah. Sunnah Nabi sudah cukup untuk kalian.” Beliau menekankan bahwa sunnah Nabi merupakan pedoman. Sedangkan pendapat orang lain bisa saja diterima atau bahkan ditolak jika berlawanan dengan petunnjuk Nabi.

            Para sahabat menngajarkan untuk tidak yaklid buta kepada tokoh tertentu. Inilah sebabnya Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Jangan taklid kepadaku. Jangan pula kepada Malik, Syafi’i, Al-Auzai, dan Sufyan Ats-Tsauri. Tapi ambillah dari sumber yang mereka ambil.”

            Imam Malik juga memiliki ketegasan yang sama. “Aku bisa benar dan salah. Pertimbangkan pendapatku. Ambillah pendapatku yang sesuai Al-quran dan sunnah. Selain dengan yang sesuai dengan Al-quran dan sunnah, tinggalkanlah.” Kata beliau.

Memakmurkan Masjid (Imarah al-Masjid)

            Masjid disebut sebagai Baitullah atau rumah Allah SWT di bumi. Seorang muslim harus menghormati tempat tersebut dan menjaga adab-adabnya. Rasulullah SAW bersabda :

Diriwayatkan dari AbuHurairoh bahwa Rasulullah bersabda, “Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid, dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar.” (HR. Muslim)

            Setiap meuslim wajib memakmurkan masjid-masjid Allah dengan berbagai ibadah dan amal shalih. Sebab Allah SWT telah memuji orang yang memakmurkan masjid sebagai orang-orang mukmin, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya :

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah : 18)

            Dalam sebuah hadist juga disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” (HR. At-Tirmidzi)

            Memang sudah seharunya seorang muslim tak bisa leas dari masjid. Bahkan berusaha membuat hatinya selalu terkait dengan rumah Allah SWT tersebut, agar ia berhak menjadi salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Mengingat fadhilahnya, jarak yang jauh dari masjid bukan halangan untuk selalu mengunjunginya, karena tak sebanding dengan pahala yang akan didapatkan kelak.

            Karena alasan ini pula Rasulullah SAW pernah melarang Bani Salamah yang ingin memindahkan perkampungannya ke tempat yang lebih dekat dari masjid Nabawi. Mereka ingin agar lebih dekat dan mudah dalam melakukan shalat berjamaah. Rasulullah SAW kemudia bertanya, 

            Ada kabar yang sampai kepadaku, bahwa kalian ingin pindah lebih dekat dengan masjid?”

            Benar, kami menginginkan itu,” jawab Bani Salamah.

            Beliau kemudian bersabda, “Wahai Bani Salamah, tetaplah kalian di rumah-rumah kalian, karena dengan sebab itu jejak-jejak kalian akan dicatat.” (HR. Muslim)
Membaca Al-Quran (Tilawah Al-Quran)

            Para sahabat memberi kita contoh dalam berinteraksi dengan Al-quran. Al-quran adalah kalamulloh yang berisi petunjuk dan bimbingan bagi manusia. Al-quran menjadi patokan antara yang haq dengan yang batil.

            Meski demikian, tak semua orang mampu mendapatkan hasil yang sama dari mempelajari dan membaca Al-quran. Hasan Al-Bashri mengungkapkan bahwa orang yang membaca Al-quran terbagi menjadi tiga tipe :

            Pertama, orang yang menjadikan Al-quran seperti barang dagangan yang dibawa dari satu kota ke kota lain untuk ditukar dengan uang.

            Kedua, orang yang membaca Al-quran hingga menguasainya, namun mereka tidak mengamalkannya bahkan menyalahi tuntunannya. Parahnya, tipe ini justru yang paling banyak beliau temukan.

            Ketiga, orang yang dapat mendulang manfaat dari membaca Al-quran. Kalamullah ini benar-benar dapat mengobati hatinya, menjadi petunjuk dan rahmat. Menurut beliau, “Karena merekalah Allah SWT menurunkan hujan, memberi pertolongan dan menghilangkan bala dan musibah. Namun manusia tipe ini sangat langka.”

            Para sahabat Nabi masuk ke tipe ketiga. Cara mereka mempelajari Al-quran tidak sama  dengan generasi setelahnya. Abu Abdurrahman as-Su;ami menjelaskan bahwa mereka belajar Al-quran sedikit demi sedikit. Mereka tidak menambah 10 ayat lagi jika belum memahami apa maknanya. Dengan cara ini, mereka belajar ilmu dan amal secara bersamaan.

            Dengan cara seperti di atas Imam Asy-Sya’bi seorang ahli tafsir menjamin, “Orang yang membaca Al-quran tidak akan tersesat.”

            Intensitas para salafus shalih dalam membaca Alquran sangat luar biasa. Tidak ada waktu kosong yang sia-sia karena selalu diisi dengan membca kalamullah. Ibnu Abi Zanad pernah menceritakan suasana masa itu. “Setiap kali beliau pergi ke masjid Nabawi di waktu fajar, setiap rumah yang aku lewati, aku mendengar orang membaca Al-quran.”

            Oleh karena tiu, tak heran jika mereka mampu mengkhatamkan Al-quran ribuan kali dalam hidupnya. Misalnya, beberapa saat Imam Syafi’i wafat, ahli warisnya menangisi beliau. Beliau tak perlu dirisaukan sebab, “Aku mengkhatamkan Al-quran dalam rumah ini sebanyak 4000 kali.”

            Menurut sebuah riwayat, pada bulan Ramadhan, Imam Syafi’i khatam sebanyak 60 kalo. Qatadah seorang ahli tafsir tabi’in biasa mengkhatamkan Al-quran tiap 7 hari. Di bulan Ramadhan khatam tiap 3 hari sekali. Ketika Ramadhan tersisa 10 hari, beliau mengkhatamkan Al-quran satu hari sekali. Sungguh luar biasa. Inilah profil generasi salaf ash sholeh.

Sumber : An-Najah, Edisi 91
Anda Suka Dengan Artikel Ini? Ayo Berlangganan Artikel Kami Dengan memasukkan e-mail Anda Dan Ikuti Website ini di Fan Page Facebook Kami.

After Reading This Post Other People Went on to Read: »

Tags |

Popular Posts Last 7 Days:

Leave a Reply